Langsung ke konten utama

Review Samsung Galaxy S8+ Indonesia

Review Samsung Galaxy S8+ Indonesia


Selama menggunakan ponsel ini, saya merasakan pengalaman yang lumayan campur aduk. Terkadang saya merasa tidak sia-sia sudah keluarkan uang Rp12 juta buat beli ponsel ini, tapi tidak jarang juga muncul pikiran, “Yah, kalau kayak gini sih mendingan nggak usah beli.”
Nah, di review kali ini, saya akan memberikan 5 alasan utama kenapa Galaxy S8+ pantas buat dibeli, sekaligus 5 alasan utama kenapa Gadgeteers lebih baik tidak perlu beli ponsel ini. Ayo kita mulai dengan yang manis dulu, yaitu:
+Infinity Display
Kalau membicarakan seri Galaxy S8, bagian ini pasti jadi topik utamanya. Mungkin Gadgeteers sampai bosan dengar para reviewer membahas bagian ini. Wajar aja sih, waktu pertama kali lihat, dan sampe sekarang pun, saya masih kagum dengan desain layar dan bezel super tipis di ponsel ini.
Tidak hanya tampil keren, desain bezeless seperti ini juga punya fungsi praktis, contohnya untuk memperbesar ukuran display tanpa memperbesar ukuran bodi ponsel. Layar yang lebih lebar juga otomatis mampu menampilkan konten yang lebih banyak. Detil manis seperti lengkungan yang ada di keempat sudut layar ponsel ini juga memberitahu kalau Samsung berusaha membuat bagian display ini sesempurna mungkin.
-Infinity Display
Ya, Gadgeteers tidak salah dengar. Bagian yang seharusnya jadi andalan Galaxy S8 ternyata juga ada efek negatif, setidaknya buat saya. Karena sifat layarnya yang harus memiliki bezel super tipis, maka mau tidak mau Samsung harus mengambil keputusan buat menghilangkan varian layar rata alias flat yang bisa kita temui di seri Galaxy S sebelumnya, seperti S6 flat dan S7 flat. Buat saya dan mungkin juga Gadgeteers yang kurang suka dengan layar edge walaupun memang keliatan jauh lebih menarik, terbatasnya pilihan jenis layar di S8 bisa menjadi sebuah deal breaker.

Desain layar seperti ini juga buat Samsung harus menghilangkan tombol home fisik yang sudah ada sejak Samsung membuat smartphone. Hilangnya tombol home fisik ini juga otomatis membuat sensor sidik jari harus dipindahkan ke bagian belakang, yang posisinya sama sekali tidak membuat penggunanya merasa jadi lebih nyaman, tapi hal itu bakal kita bahas di poin berikutnya. Kita balik lanjut ke alasan kedua untuk membeli ponsel ini, yaitu
+Fitur-fitur yang futuristik
Di Galaxy S8, Gadgeteers bakal menemukan banyak sekali teknologi yang masih masuk ke kategori alienbuat kebanyakan ponsel lain seperti teknologi Bluetooth terbaru versi 5.0, fitur water-resistant, USB type C, wireless chargingfast wireless charging, sampe headphone jack juga ada. Wow. Buat Gadgeteers yang mau jadikan Galaxy S8 sebagai komputer pun bisa dengan menggunakan Samsung Dex, tapi konektornya dijual terpisah. Pokoknya Gadgeteers tidak akan ketinggalan zaman kalau pakai ponsel ini. Samsung juga ada memperkenalkan fitur-fitur keamanan yang anti mainstream seperti face recognition dan iris scanner. Sebenarnya kedua fitur ini mau tidak mau harus kita coba karena alasan negatif kedua, yaitu:

-Fitur security-nya ribet
Di ponsel Samsung yang lain, Gadgeteers bisa manfaatkan fitur fingerprint yang tergabung dengan tombol home di bagian depan. Nah, karena Galaxy S8 tidak punya tombol home fisik, mau tidak mau fingerprint-nya harus dipindah ke belakang. Masih wajar karena ponsel flagship lain seperti LG G6 juga demikian. Masalahnya, Samsung buat posisi fingerprint di sebelah kamera, yang berarti posisinya tidak seimbang dan akan lebih tidak enak untuk dijangkau daripada posisi di bawah kamera. Memang, penampilan seperti ini kelihatan lebih bagus dan seimbang, tapi kalau harus memilih ponsel yang menarik atau nyaman dipakai, saya lebih memilih nyaman dipakai.

Kondisi seperti ini membuat saya mau tidak mau harus menggunakan fitur keamanan lain yaitu iris scanner, yang memang lebih aman tapi tidak sepraktis fingerprint. Posisi mata kita juga kadang tidak pas dengan layar ponsel sehingga proses membuka kunci ponsel malah jadi lebih lambat. Fitur face recognition sendiri tidak saya pakai karena tidak bisa berfungsi dalam kondisi gelap. Lanjut ke alasan positif ke 3, yaitu:
+Software yang fleksibel
Semakin mahal sebuah ponsel, biasanya semakin banyak hal-hal yang bisa kita lakukan dengannya. Galaxy S8 adalah contoh yang bagus buat pernyataan itu. Di dalam ponsel ini, Gadgeteers diberikan kontrol yang lebih leluasa. Tidak suka dengan posisi tombol navigasi? Tinggal ubah aja. Ingin menghemat baterai? Turunkan saja resolusinya. Tidak suka tombol app drawer? Hilangkan aja. Tidak suka dengan warna layarnya? Mudah, bisa Gadgeteers setting  sendiri. Buat Gadgeteers yang udah merasa jago fotografi pun pasti bakal senang pakai ponsel ini karena ada mode pro yang memberikan kebebasan untuk mengatur settingan kamera secara manual. Secara keseluruhan saya sangat suka dengan sistem di dalam ponsel ini, kecuali Bixby.

-Bixby
Sebenarnya saya tidak bisa bilang kalau saya tidak suka dengan asisten personal dari Samsung ini, karena saya hanya pakai sekali dan setelah itu tidak pernah saya sentuh lagi. Bisa dibilang seperti bloatware, tidak berguna tapi tidak menganggu pengalaman pemakaian tapi ketika saya sadar Bixby bisa jadi faktor yang menambah harga ponsel ini, saya jadi kecewa.

Bagaimana tidak kecewa? Ketika saya coba memanfaatkan Bixby Vision yang diklaim bisa mengenali obyek, mayoritas hasil tebakannya salah jadi tidak bisa diandelkan. Selain itu, Bixby hanya berfungsi buat memberitahu jadwal harian, prediksi cuaca, alarm yang aktif, dan berita-berita yang tidak menarik. Masih lebih menarik LINE today malah. Begitu tidak terpakainya fitur ini, teman saya yang pakai S8 malah tidak tau apa itu Bixby. Saat saya jelaskan, dia baru tahu fungsinya, dan ujung-ujungnya tetap tidak ada niat buat pakai. Lanjut ke alasan positif ke-4, kamera.
+Kamera
Setiap Samsung mengeluarkan flagship baru, pasti kameranya jadi perhatian, termasuk kamera di Galaxy S8. Bisa dibilang saya sama sekali tidak punya keluhan dengan kamera di Galaxy S8. Fiturnya banyak, dan kualitas fotonya pun juga jadi salah satu yang terbaik, terutama dalam kondisi pencahayaan minimal. Semua foto yang ada di bawah ini tentu saja tidak melalui proses editing dan diambil dalam auto.


Hasil fotonya kece kan? Tapi bagaimana kalau saya bilang kalau ada sebuah ponsel yang bisa hasilkan foto dengan kualitas yang mirip-mirip tapi harganya lebih murah? Ponsel ini juga jadi salah satu alasan kenapa sebaiknya Gadgeteers tidak beli Galaxy S8, yaitu
-Samsung Galaxy S7
Ya, setelah saya nonton banyak video perbandingan tentang Galaxy S7 dan S8, tidak banyak perbedaan yang bisa dilihat dari hasil kedua kamera belakangnya karena memang sedikit sekali. Kalau membicarakan kamera depan baru terasa bedanya. Memang tidak adil membandingkan kualitas keseluruhan Galaxy S7  dengan Galaxy S8 karena desain dan mesinnya berbeda. Namun kalau Gadgeteers beli Galaxy S8 demi mendapatkan kamera belakangnya, lebih baik mikir 2 kali. Ngomong-ngomong soal mesin, spesifikasi di Galaxy S7 juga masih sangat bagus. Sekarang kita masuk ke poin plus-minus terakhir buat menyimpulkan pengalaman saya menggunakan Galaxy S8.

+Ponsel yang Hampir Sempurna
Secara keseluruhan, Samsung mampu mengeksekusi bagian-bagian yang penting sebuah ponsel dengan sangat mantap kalau tidak mau dibilang sempurna. Sektor-sektor yang biasanya saya bahas di review biasa, mulai dari sektor performa, kualitas display, desain, user interface, kamera, gengsi, sampai ke sektor fitur-fitur pendukung, semuanya bisa disajikan Samsung dengan amat sangat baik di dalam Galaxy S8, sama sekali tidak ada keraguan soal itu.

-Fitur Baru yang setengah-setengah
Kalau kita membicarakan fitur-fitur yang baru diperkenalkan Samsung lewat ponsel ini seperti infinity display, Bixby, dan sistem keamanan yang lebih kompleks, saya langsung merasa kalau ponsel ini hanya dijadikan ajang percobaan karena eksekusinya terasa setengah-setengah. Mungkin penerapannya bakal terasa lebih matang waktu mereka perkenalkan Galaxy Note 8 atau Galaxy S9 nanti. Apakah Gadgeteers jadi tambah yakin buat beli ponsel ini? atau malah jadi ragu? Silakan putuskan sendiri.

Demikian review saya untuk Samsung Galaxy S8 atau S8+, sama aja, hanya beda di ukuran layar dan baterai.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Xiaomi Redmi 4X

Review Canon EOS M10

Review Rauffa Apparel Online Shop dan Busana Muslim